Menghidupkan Ukiran Rumah Tuo dalam Helai Kain: Misi Transformasi Budaya di Rantau Panjang

SHARE

 

MERANGIN — Di bawah naungan atap magis Rumah Tuo Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, sebuah sejarah baru tengah dipahat secara perlahan. Baru-baru ini, bangunan bersejarah tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi telah berubah wujud menjadi ruang kreativitas tanpa batas bagi masyarakat setempat. Uniknya, sejarah baru ini tidak dipahat di atas medium kayu seperti yang dilakukan para leluhur, melainkan diabadikan di atas hamparan kain putih.

Kegiatan pelatihan membatik ini merupakan inisiatif luar biasa yang lahir dari kolaborasi strategis antara Badan Pengelola Merangin Jambi UNESCO Global Geopark (MJUGGp) dan Sanggar Batin Penghulu.

Bukan Sekadar Teknik Mencanting

Dengan menghadirkan instruktur ahli, Ibu Rohmatul Hidayah dari Pondok Pesantren Al-Aziziah Muara Siau, masyarakat setempat diajarkan teknik membatik dari nol. Namun, pelatihan ini jauh lebih besar daripada sekadar belajar memegang canting dan menorehkan malam.

Terdapat misi besar dan mulia di balik kegiatan ini: memindahkan ruh, filosofi, dan keindahan ukiran khas Rumah Tuo ke dalam motif batik bernilai seni sekaligus bernilai ekonomi tinggi. Melalui langkah ini, identitas visual Rantau Panjang dapat dikenakan, diperkenalkan, dan dipasarkan ke dunia luar.

Sinergi Lintas Generasi

Wakil Bupati Merangin, Bapak Drs. H. Abdul Khafidh, M.M., yang hadir langsung untuk membuka acara, menyampaikan pesan yang sangat mendalam. Dalam sambutannya, beliau menyebut kegiatan ini sebagai sebuah "jembatan transformasi budaya" yang nyata.

Beliau mengaku sangat terpukau melihat antusiasme peserta yang datang dari berbagai rentang generasi. Mulai dari tangan mungil anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, hingga jemari terampil orang dewasa, semuanya duduk bersama membatik kain mereka.

"Melihat dari anak-anak hingga orang dewasa bersatu menjaga warisan leluhur, ini adalah bukti nyata bahwa upaya pelestarian budaya di Merangin bersifat inklusif dan hidup di tengah masyarakat," ungkap Bapak Abdul Khafidh.

 

Syarat Krusial Menuju Pengakuan UNESCO

Langkah transformasi budaya ini tidak hanya menguntungkan dari sisi pelestarian kesenian, tetapi juga memiliki dampak global. General Manager Geopark Merangin Jambi, Dr. Agus, S.Sos., M.Hum., menegaskan bahwa pemberdayaan seperti ini adalah syarat krusial bagi penilaian kelayakan dari UNESCO.

"Dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek dan aktor utama pelestarian, kita tidak hanya sekadar menjaga budaya. Lebih dari itu, kita sedang mengintegrasikan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya menjadi sebuah nilai ekonomi nyata yang menyejahterakan," tegas Dr. Agus.

Kini, melalui sehelai kain batik, masyarakat Rantau Panjang membuktikan bahwa warisan masa lalu tidak harus berhenti menjadi pajangan, melainkan dapat terus bernapas, beradaptasi, dan memberikan penghidupan bagi generasi masa depan.  

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.